Setiap kita mungkin pernah mengalami
masa-masa di mana kita menyesali suatu keadaan. Jika boleh berandai, ingin
rasanya kita membalik waktu dan mengubah kondisi yang kita sesali itu dengan
keadaan yang lebih baik. Misalnya, ingin menarik ucapan buruk yang terlanjur
keluar, perilaku yang tidak sepantasnya hingga membuka aib diri, atau
kecerobohan yang berakibat fatal yang seharusnya bisa kita hindari. Tapi, waktu
tak akan pernah bisa kembali. Allah memaksa kita tetap berada pada kondisi yang
tidak enak itu. Mau atau tidak!
Mengapa
Allah memaksa kita menghadapi kondisi pahit tak terperi? Awal dan akhirnya
sesungguhnya berpulang pada diri kita. Bisa jadi sebelumnya Allah swt telah
memberi peringatan-peringatan kecil akan kelalaian yang ada. Ketika kita
sembarangan makan, mulai ada sakit-sakit di pencernaan. Tapi makin kalap makan
apa saja yang tak sehat, tahu-tahu sudah ada kanker stadium akut di usus kita.
Warning kecil dari Allah biasanya selalu
ada ketika kita berlaku lalai. Masalahnya, kita mau atau tidak memaksa diri
untuk berhenti? Jika tidak, maka Allah yang akan memaksa kita menghentikan
kelalaian itu dengan hal yang membuat jera. Jangan tanya rasanya jika Allah
sudah memaksa.
Fitrah
manusia tidak suka dipaksa, apalagi oleh sesuatu di luar diri kita. Seorang
anak tidak suka dipaksa orangtuanya, walau ternyata akhirnya baik untuknya. Kita
pun tak suka jika atasan memaksa kita melakukan kerja berat, yang ternyata
mendatangkan bonus besar untuk kita. Pemaksaan memang tidak enak tapi sering
kali baik akhirnya.
Ada
kata hikmah yang mengatakan , “jika kamu mau bersikap kejam pada diri sendiri,
maka alam semesta akan memperlakukanmu dengan lebih mudah” dan “kita tak akan
bisa memaksa orang lain, jika kita tidak pernah memaksa diri lebih dulu”.
Jangan
sekadar ingin rutin qiyamullail,
tanpa terbiasa memaksa diri bangun saat kantuk masih menyengat. Atau rajin
membuat resolusi menjelang awal tahun, tapi tidak memaksa diri menjalani
hal-hal kecil yang bisa mengantarkan kita pada capaian resolusi tersebut.
Sesuatu yang baik butuh pengorbanan dan paksaan untuk mencapainya. Karena
sebelum pihak lain memaksa, paksalah diri kita lebih dulu. Pemaksaan yang paling
indah adalah yang berasal dari dalam, bukan dari luar. (sumber:
majalah ummi).