Jangan
ngiler melihat kaum wanita berbaju
mini dan blazer ketat serta bersepatu tumit tinggi yang bekerja di
gedung-gedung tinggi ber AC. Kemuliaan pekerjaan kita bukan terletak pada
status yang dibuat-buat manusia, tapi ada pada niat ikhlas dan ketaatan kita
bekerja dengan cara yang dituntun Allah SWT dan Rasulullah SAW.
Ada
seorang pemuda yang bekerja sebagai pengelola perpustakaan dan pengurus masjid
di sebuah sudut di luar Jakarta yang beberapa waktu ini gundah, kenapa? Karena
dia ingin melamar seorang gadis yang dinilainya shalihah dan mampu menolongnya
melengkapi separuh dari agamanya. Tapi saat harus bertukaran CV, belum apa-apa
si pemuda sudah ingin surut.
Kenapa?
Karena ia malu mengakui kepada ayah si gadis bahwa dia bukan sarjana serta
tidak memiliki pekerjaan yang akan memaksanya berangkat pagi hari buta dari
rumahnya di kampung untuk sampai ke tengah kota dan berjejalan dengan orang
lain di dalam lift untuk sampai ke lantai sekian sebuah gedung tempatnya
berkantor.
Dia
malu mengakui kepada ayah si gadis bahwa dia tidak harus mengenakan dasi,
dengan rambut tersisir rapi dengan gel, dan duduk di depan sebuah komputer di
sebuah counter di bagian depan
kantor, lalu menyapa manis kepada siapapun yang datang. “Silakan Bu, Pak…ada
yang bisa saya bantu?
Dia
malu mengakui kepada ayah si gadis bahwa yang dilakukannya sehari-hari adalah
menjaga wudhunya agar setiap saat bisa melaksanakan shalat sunnah dan membaca
Al-Qur’an, lalu memastikan agar semua sudut masjid siap menjadi tempat
orang-orang yang rindu mendekat kepada Allah dengan meletakkan dahi mereka
dalam sujud di shalat-shalat fardhu mereka.
Dia
malu mengakui bahwa dia bekerja tanpa seragam, tapi selalu harus dalam keadaan
bersih dari najis demi menjaga kesucian masjid. Dia malu mengakui bahwa
termasuk dalam tanggung jawabnya adalah menyapu, mengepel, mengecek sound system dan melayani anak-anak TPA
yang berebutan datang ke perpustakaan masjid meminjam buku-buku kisah para Nabi
dan Rasulullah SAW.
Dia
malu mengakui kepada ayah si gadis bahwa pekerjaannya tidak mengharuskannya
menempelkan telinganya ke android dan
smartphone terus-menerus, looking busy, tapi justru mengharuskan
dia untuk terus berdekatan dengan Al-Qur’an dan kitab-kitab yang mengajarinya
cara memelihara kesucian jiwanya, yang juga membuatnya malu adalah gajinya yang
tergolong kecil, dibandingkan dengan penghasilan pemuda-pemuda sebayanya yang
tampil keren di gedung-gedung tinggi yang hidup dari kartu kredit dan utang
pulsa.
Alhamdulillah,
do’a-do’anya selama ini, agar Allah mengarunianya seorang istri yang shalihah
dijawab Allah. Selepas shalat zuhur
sesudah sebuah kegiatan masjid, dia jumpa dengan gadis yang
didambakannya dari kejauhan. Si gadis bertanya kepadanya mengapa dia belum
mengirimkan CV kepada kedua orangtuanya, pada hal dia sudah lebih dahulu
mengirimkan biodatanya. Si pemuda mengakui bahwa dia malu karena hanya memiliki
“kerjaan rendahan”.
Di
halaman masjid itu, si gadis berbicara dengan berapi-api, kenapa malu untuk
sebuah pekerjaan yang dilakukan karena Allah? Kenapa malu karena pekerjaan yang
bersih tanpa riba dan utang, halal dan mulia karena selalu mendekatkan diri
kepada Allah?
Si
pemuda mengangguk tanpa bisa bicara lagi, air matanya hampir terbit. Lalu malam
itu, sesudah usai tahajjud, pemuda itu mengucapkan bismillah, lalu menulis sepucuk
surat kepada ayah si gadis dengan mengatakan,”saya menulis surat ini karena
ingin melamar putri Bapak dan Ibu. Izinkanlah saya memperkenalkan diri, saya
seorang pemuda yang terikat dengan masjid bukan saja karena masjid adalah
tempat ibadah dan belajar saya yang utama, tetapi juga karena pekerjaan saya
sebagai pengelola kebersihan masjid dan perpustakaan.
Siapa bilang ada pekerjaan
“rendahan”?
Siapa
sih yang mengklasifikasikan pekerjaan berat dan menggunakan tangan- seperti
menjadi cleaning service- sebagai
pekerjaan “rendahan”, sementara pekerjaan yang dilakukan dengan menggunakan jas
atau komputer sebagai pekerjaan “mulia”? islam meletakkan status kemuliaan dan
kehinaan sebuah pekerjaan pada niat si pekerja serta cara-caranya bekerja.
Jas
dan laptop bisa menjadi sumber
kehinaan seorang pekerja- bahkan menjebloskannya ke dalam neraka, sementara
tangan yang menjadi kasar dan kapalan karena membersihkan kamar mandi bandara
setiap hari- ketika dilakukan karena Allah- dapat mengantarkan seseorang menjadi
ahli surga.
Orang
barat menganggap kerja dan banting tulang sebagai harga yang harus dibayar oleh
mereka yang ingin mengonsumsi barang tertentu. Kerja-kerja konsumsi, kalau
ingin makan atau mengonsumsi sesuatu lebih banyak maka tentu harus bekerja
lebih banyak. Tapi lebih banyak bekerja pastilah harus diikuti dengan
ketidaknyamanan yang lebih besar pula, bukan begitu?
Itu
tradisi dan pemikiran Barat yang menjadikan consumption
sebagai tujuan akhir sebuah pekerjaan dilaksanakan.
Islam
berbeda sama sekali. Konsep bekerja (‘amal) dalam islam jauh lebih luas dan
memiliki ciri, serta tujuan yang berbeda dengan konsep dan tradisi ekonomi
Barat. Di dalam islam, etos dan prinsip bekerja diatur di dalam Al-Qur’an yang
menyebutkan kata ‘amal dalam 360 ayat. Ada satu lagi konsep yang berdekatan,
yang juga diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai kerja, yaitu fi’l yang
disebutkan di dalam 109 ayat lainnya.
Semua
ayat Al-Qur’an ini menekankan perlunya manusia bekerja dan berbuat. Islam
adalah sebuah gaya hidup aktif. Orang yang beriman harus berilmu harus beramal.
Bahkan Al-Qur’an menganggap kepasifan dan penyia-nyiaan waktu untuk suatu
pekerjaan yang tidak produktif dan bermanfaat sebagai cermin lemah iman dan
bahkan kekafiran. Manusia harus memanfaatkan “waktu” yang Allah berikan untuk
bekerja dan mencari rizqi yang Allah tetapkan atas dirinya.
Seseorang
yang bekerja keras mencari “karunia” Allah – termasuk dengan melaksanakan semua
cara yang dibenarkan syari’at untuk mencari sumber- sumber kehidupannya- sangat
dimuliakan dalam islam. Semua orang yang bertubuh sehat didorong untuk bekerja
demi mencari penghidupan mereka.
(Kalau
sudah begini, jadi kesal juga’kan, kalau ingat banyaknya pengemis-pengemis buta
dan lumpuh di jalan-jalan Jakarta yang justru dituntun dan dieksploitasi
orang-orang bertubuh sehat! Kalau memang sehat, mestinya si penuntun itu
bekerja dan menafkahi saudaranya yang buta dan lumpuh dong!)
Tidak
seorang pun yang secara fisik dan mental sehat dibolehkan menjadi beban
keluarganya atau Negara. Yang disebut kerja dalam islam haruslah baik dan
bermanfaat- al-‘amal as-salih- dan tidak ada satupun bentuk pekerjaan yang
kemudian tidak akan berakibat kepada kehidupan si pekerja di akhirat nanti.
Apakah dia mendapat kemuliaan di surga atau kehinaan di neraka, kuncinya ada
pada pekerjaan yang dilakukannya di dunia.
“Apabila bumi digoncangkan dengan
goncangannya (yang dahsyat). Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat
(yang dikandungnya). Dan manusia bertanya-tanya “mengapa bumi (jadi begini)?”
Pada
hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Rabb mu telah
memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya pada hari itu manusia keluar dari
kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka
(balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat
dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang
mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)
nya pula”. (Al-Qur’an
surah Al-Zalzalah: 1-8).
Jadi,
bekerja adalah kewajiban manusia, tapi bekerja yang bukan sembarang bekerja
melainkan bekerja dengan niat yang benar dan cara yang benar pula.
Nah,
karena islam melarang perbedaan status dan kelas sosial maka tidak ada satupun
jenis pekerjaan yang dibenarkan oleh syari’ah dapat dianggap rendah atau hina.
Perbedaan hanya dibenarkan berdasarkan bakat dasar seseorang, keterampilan dan
kemampuannya, teknologi ataupun kecenderungan minat.
Islam
mewajibkan semua orang bekerja bukan saja pekerjaan yang bermanfaat-al-‘amal
as-salih- tapi juga sebaik mungkin sesuai dengan kemampuannya, ukuran
produktivitas seseorang, dengan demikian ditentukan oleh kemampuan dan
bakatnya. Demikian pula reward atau balasan bagi seorang pekerja haruslah
diatur berdasarkan konsep keadilan dalam islam. Semakin produktif seseorang
maka seharusnya semakin besarlah balasan jasanya, sementara orang yang mengaku
dirinya berkemampuan sangat tinggi dan berkelas internasional, namun tidak
produktif tidaklah seharusnya mengharapkan balasan yang tinggi pula.
Pekerjaan terbaik???
Sekarang
kita paham bahwa mulia atau hinanya sebuah pekerjaan ditentukan oleh niat dan
keta’atan si pekerja kepada syari’ah. Tapi dari berbagai jenis yang didasari
pada perbedaan kemampuan dan minat adakah pekerjaan yang dapat digolongkan
paling baik?
Seorang ‘alim bernama
Taqiyuddin Abu’l-Abbas Ahmad Ibn Taymiyyah pernah ditanyai orang tentang cara
terbaik mencari penghidupan, jawabnya begini:
Cara terbaik mencari
penghidupan adalah dengan bertawakkal kepada Allah, dan meyakini bahwa Dia
mampu memelihara dan menghidupimu, dan dengan terus bersangka baik kepada-Nya.
Itu artinya orang yang ingin mencari penghidupan haruslah berpaling hanya
kepada Allah dan berdo’a meminta kepada-Nya. Karena, bukankah telah Allah
nyatakan melalui Rasulullah SAW dalam sebuah hadits Qudsi, “semua kalian dalam keadaan lapar kecuali yang Aku beri makan: mintalah makan kepada Ku
dan Aku akan memberimu makan. Semua kalian bertelanjang kecuali yang Aku
pakaikan pakaian. Mintalah kepadaku untuk memakaikan mu pakaian maka Aku akan
pakaikan kepada mu pakaian”.
At-Tirmidzi
meriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda, “biarkanlah setiap jiwa dari kalian meminta
kepada Tuhannya semua yang ia butuhkan, meskipun untuk sebuah tali bagi
sandalnya yang putus, karena sesungguhnya bila Allah tidak memudahkannya maka
dia tidak akan mampu memperbaikinya (sandalnya) itu”.
Hadits yang sama juga
telah diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu dan ini adalah hadits yang
shahih.
Bukankah Allah telah
berfirman di dalam surah An-Nisaa’ :32
“Mohonlah kepada Allah sebahagian
daripada karunia-Nya, sesungguhnya Allah terhadap segala sesuatu adalah
Al-‘Alim (Maha Mengetahui).”
“Lalu
ketika shalat (jum’at) sudah ditunaikan, bertebaranlah di muka bumi dan carilah
karunia Allah (dengan bekerja)……” (Al-Qur’an surah Al-Jumu’ah : 10)
Karena itulah
Rasulullah SAW memerintahkan kepada kaum muslimin untuk membaca do’a ini saat
memasuki masjid, “Allaahumma iftah li
abwaabrahmatika ( ya Allah, bukakanlah untuk ku gerbang-gerbang rahmat Mu)”.
Dan untuk membaca do’a ini saat meninggalkan masjid, “Allaahumma inni as’aluka min fadlika (ya Allah, aku memohon dari Mu
semua kemurahan hati Mu)”.
Dan Ibrahim
‘alayhissalam berkata,”……..Dan mintalah
rizqi mu dari Allah (saja) dan sembahlah Dia (saja) dan bersyukurlah
kepada-Nya…..” (Al-Qur’an surah
Al-Ankabut : 17). Ini adalah sebuah perintah yang harus dilaksanakan. Jadi,
memohon pertolongan Allah, mengharap hanya kepada-Nya dalam urusan rizqi dan
semua urusan lainnya adalah perintah dan prinsip penting dalam bekerja.
Orang haruslah mencari
uang dengan memelihara martabat dan harga dirinya sehingga Allah akan
memberkahi penghasilannya. Janganlah mencari uang dengan nekad dan ketamakan.
Uang seharusnya tidak berfungsi lebih daripada kakus- orang membutuhkannya tapi
tidak harus menganggapnya sebagai bagian penting dalam hati seseorang. Bekerja
mencari uang selayaknya dengan sikap seseorang yang perlu memperbaiki
toiletnya.
Sebab seperti kata
Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi: “Barangsiapa bangun di pagi hari dengan dunia
sebagai urusan utamanya maka Allah akan mencerai beraikan dan menghancurkan,
dan dia akan merasakan kepanikan dan kehilangan dan tidaklah dia akan dapatkan
apapun dari dunia ini kecuali apa yang sudah Allah tetapkan atas dirinya. Siapa
yang bangun di pagi hari menjadikan akhirat sebagai urusan utamanya maka Allah
akan memberinya perasaan merdeka (dari perbudakan oleh siapapun) dan semua
kekayaan dunia akan mendatanginya dengan sukarela ataupun terpaksa”.
Mengenai cara tertentu
untuk mendapatkan penghidupannya, apakah dalam dunia industri atau bisnis atau
konstruksi atau pertanian maka ini berbeda dari satu orang ke lain orang.
Beristikharahlah mencari tuntunan dan petunjuk Allah karena di dalam shalat
istikharah ada keberkahan yang tidak dapat dipahami oleh manusia. Kemudian
apapun yang Allah mudahkan untuk dirinya maka hendaklah dia bersyukur.
(sumber: majalah AULIA-Inspirasi Wanita Mulia).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar