Halaman

Selasa, 25 Juni 2013

Pekerjaan Mulia Versus Pekerjaan Hina



Jangan ngiler melihat kaum wanita berbaju mini dan blazer ketat serta bersepatu tumit tinggi yang bekerja di gedung-gedung tinggi ber AC. Kemuliaan pekerjaan kita bukan terletak pada status yang dibuat-buat manusia, tapi ada pada niat ikhlas dan ketaatan kita bekerja dengan cara yang dituntun Allah SWT dan Rasulullah SAW.
Ada seorang pemuda yang bekerja sebagai pengelola perpustakaan dan pengurus masjid di sebuah sudut di luar Jakarta yang beberapa waktu ini gundah, kenapa? Karena dia ingin melamar seorang gadis yang dinilainya shalihah dan mampu menolongnya melengkapi separuh dari agamanya. Tapi saat harus bertukaran CV, belum apa-apa si pemuda sudah ingin surut.
Kenapa? Karena ia malu mengakui kepada ayah si gadis bahwa dia bukan sarjana serta tidak memiliki pekerjaan yang akan memaksanya berangkat pagi hari buta dari rumahnya di kampung untuk sampai ke tengah kota dan berjejalan dengan orang lain di dalam lift untuk sampai ke lantai sekian sebuah gedung tempatnya berkantor.
Dia malu mengakui kepada ayah si gadis bahwa dia tidak harus mengenakan dasi, dengan rambut tersisir rapi dengan gel, dan duduk di depan sebuah komputer di sebuah counter di bagian depan kantor, lalu menyapa manis kepada siapapun yang datang. “Silakan Bu, Pak…ada yang bisa saya bantu?
Dia malu mengakui kepada ayah si gadis bahwa yang dilakukannya sehari-hari adalah menjaga wudhunya agar setiap saat bisa melaksanakan shalat sunnah dan membaca Al-Qur’an, lalu memastikan agar semua sudut masjid siap menjadi tempat orang-orang yang rindu mendekat kepada Allah dengan meletakkan dahi mereka dalam sujud di shalat-shalat fardhu mereka.
Dia malu mengakui bahwa dia bekerja tanpa seragam, tapi selalu harus dalam keadaan bersih dari najis demi menjaga kesucian masjid. Dia malu mengakui bahwa termasuk dalam tanggung jawabnya adalah menyapu, mengepel, mengecek sound system dan melayani anak-anak TPA yang berebutan datang ke perpustakaan masjid meminjam buku-buku kisah para Nabi dan Rasulullah SAW.
Dia malu mengakui kepada ayah si gadis bahwa pekerjaannya tidak mengharuskannya menempelkan telinganya ke android dan smartphone terus-menerus, looking busy, tapi justru mengharuskan dia untuk terus berdekatan dengan Al-Qur’an dan kitab-kitab yang mengajarinya cara memelihara kesucian jiwanya, yang juga membuatnya malu adalah gajinya yang tergolong kecil, dibandingkan dengan penghasilan pemuda-pemuda sebayanya yang tampil keren di gedung-gedung tinggi yang hidup dari kartu kredit dan utang pulsa.
Alhamdulillah, do’a-do’anya selama ini, agar Allah mengarunianya seorang istri yang shalihah dijawab Allah. Selepas shalat zuhur  sesudah sebuah kegiatan masjid, dia jumpa dengan gadis yang didambakannya dari kejauhan. Si gadis bertanya kepadanya mengapa dia belum mengirimkan CV kepada kedua orangtuanya, pada hal dia sudah lebih dahulu mengirimkan biodatanya. Si pemuda mengakui bahwa dia malu karena hanya memiliki “kerjaan rendahan”.
Di halaman masjid itu, si gadis berbicara dengan berapi-api, kenapa malu untuk sebuah pekerjaan yang dilakukan karena Allah? Kenapa malu karena pekerjaan yang bersih tanpa riba dan utang, halal dan mulia karena selalu mendekatkan diri kepada Allah?
Si pemuda mengangguk tanpa bisa bicara lagi, air matanya hampir terbit. Lalu malam itu, sesudah usai tahajjud, pemuda itu mengucapkan bismillah, lalu menulis sepucuk surat kepada ayah si gadis dengan mengatakan,”saya menulis surat ini karena ingin melamar putri Bapak dan Ibu. Izinkanlah saya memperkenalkan diri, saya seorang pemuda yang terikat dengan masjid bukan saja karena masjid adalah tempat ibadah dan belajar saya yang utama, tetapi juga karena pekerjaan saya sebagai pengelola kebersihan masjid dan perpustakaan.
Siapa bilang ada pekerjaan “rendahan”?
            Siapa sih yang mengklasifikasikan pekerjaan berat dan menggunakan tangan- seperti menjadi cleaning service- sebagai pekerjaan “rendahan”, sementara pekerjaan yang dilakukan dengan menggunakan jas atau komputer sebagai pekerjaan “mulia”? islam meletakkan status kemuliaan dan kehinaan sebuah pekerjaan pada niat si pekerja serta cara-caranya bekerja.
            Jas dan laptop bisa menjadi sumber kehinaan seorang pekerja- bahkan menjebloskannya ke dalam neraka, sementara tangan yang menjadi kasar dan kapalan karena membersihkan kamar mandi bandara setiap hari- ketika dilakukan karena Allah- dapat mengantarkan seseorang menjadi ahli surga.
            Orang barat menganggap kerja dan banting tulang sebagai harga yang harus dibayar oleh mereka yang ingin mengonsumsi barang tertentu. Kerja-kerja konsumsi, kalau ingin makan atau mengonsumsi sesuatu lebih banyak maka tentu harus bekerja lebih banyak. Tapi lebih banyak bekerja pastilah harus diikuti dengan ketidaknyamanan yang lebih besar pula, bukan begitu?
            Itu tradisi dan pemikiran Barat yang menjadikan consumption sebagai tujuan akhir sebuah pekerjaan dilaksanakan.
            Islam berbeda sama sekali. Konsep bekerja (‘amal) dalam islam jauh lebih luas dan memiliki ciri, serta tujuan yang berbeda dengan konsep dan tradisi ekonomi Barat. Di dalam islam, etos dan prinsip bekerja diatur di dalam Al-Qur’an yang menyebutkan kata ‘amal dalam 360 ayat. Ada satu lagi konsep yang berdekatan, yang juga diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai kerja, yaitu fi’l yang disebutkan di dalam 109 ayat lainnya.
            Semua ayat Al-Qur’an ini menekankan perlunya manusia bekerja dan berbuat. Islam adalah sebuah gaya hidup aktif. Orang yang beriman harus berilmu harus beramal. Bahkan Al-Qur’an menganggap kepasifan dan penyia-nyiaan waktu untuk suatu pekerjaan yang tidak produktif dan bermanfaat sebagai cermin lemah iman dan bahkan kekafiran. Manusia harus memanfaatkan “waktu” yang Allah berikan untuk bekerja dan mencari rizqi yang Allah tetapkan atas dirinya.
            Seseorang yang bekerja keras mencari “karunia” Allah – termasuk dengan melaksanakan semua cara yang dibenarkan syari’at untuk mencari sumber- sumber kehidupannya- sangat dimuliakan dalam islam. Semua orang yang bertubuh sehat didorong untuk bekerja demi mencari penghidupan mereka.
            (Kalau sudah begini, jadi kesal juga’kan, kalau ingat banyaknya pengemis-pengemis buta dan lumpuh di jalan-jalan Jakarta yang justru dituntun dan dieksploitasi orang-orang bertubuh sehat! Kalau memang sehat, mestinya si penuntun itu bekerja dan menafkahi saudaranya yang buta dan lumpuh dong!)
            Tidak seorang pun yang secara fisik dan mental sehat dibolehkan menjadi beban keluarganya atau Negara. Yang disebut kerja dalam islam haruslah baik dan bermanfaat- al-‘amal as-salih- dan tidak ada satupun bentuk pekerjaan yang kemudian tidak akan berakibat kepada kehidupan si pekerja di akhirat nanti. Apakah dia mendapat kemuliaan di surga atau kehinaan di neraka, kuncinya ada pada pekerjaan yang dilakukannya di dunia.
            “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat). Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandungnya). Dan manusia bertanya-tanya “mengapa bumi (jadi begini)?”
Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Rabb mu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula”. (Al-Qur’an surah Al-Zalzalah: 1-8).
            Jadi, bekerja adalah kewajiban manusia, tapi bekerja yang bukan sembarang bekerja melainkan bekerja dengan niat yang benar dan cara yang benar pula.
            Nah, karena islam melarang perbedaan status dan kelas sosial maka tidak ada satupun jenis pekerjaan yang dibenarkan oleh syari’ah dapat dianggap rendah atau hina. Perbedaan hanya dibenarkan berdasarkan bakat dasar seseorang, keterampilan dan kemampuannya, teknologi ataupun kecenderungan minat.
            Islam mewajibkan semua orang bekerja bukan saja pekerjaan yang bermanfaat-al-‘amal as-salih- tapi juga sebaik mungkin sesuai dengan kemampuannya, ukuran produktivitas seseorang, dengan demikian ditentukan oleh kemampuan dan bakatnya. Demikian pula reward atau balasan bagi seorang pekerja haruslah diatur berdasarkan konsep keadilan dalam islam. Semakin produktif seseorang maka seharusnya semakin besarlah balasan jasanya, sementara orang yang mengaku dirinya berkemampuan sangat tinggi dan berkelas internasional, namun tidak produktif tidaklah seharusnya mengharapkan balasan yang tinggi pula.
Pekerjaan terbaik???
            Sekarang kita paham bahwa mulia atau hinanya sebuah pekerjaan ditentukan oleh niat dan keta’atan si pekerja kepada syari’ah. Tapi dari berbagai jenis yang didasari pada perbedaan kemampuan dan minat adakah pekerjaan yang dapat digolongkan paling baik?
Seorang ‘alim bernama Taqiyuddin Abu’l-Abbas Ahmad Ibn Taymiyyah pernah ditanyai orang tentang cara terbaik mencari penghidupan, jawabnya begini:
Cara terbaik mencari penghidupan adalah dengan bertawakkal kepada Allah, dan meyakini bahwa Dia mampu memelihara dan menghidupimu, dan dengan terus bersangka baik kepada-Nya. Itu artinya orang yang ingin mencari penghidupan haruslah berpaling hanya kepada Allah dan berdo’a meminta kepada-Nya. Karena, bukankah telah Allah nyatakan melalui Rasulullah SAW dalam sebuah hadits Qudsi, “semua kalian dalam keadaan lapar kecuali  yang Aku beri makan: mintalah makan kepada Ku dan Aku akan memberimu makan. Semua kalian bertelanjang kecuali yang Aku pakaikan pakaian. Mintalah kepadaku untuk memakaikan mu pakaian maka Aku akan pakaikan kepada mu pakaian”.
At-Tirmidzi meriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda, “biarkanlah setiap jiwa dari kalian meminta kepada Tuhannya semua yang ia butuhkan, meskipun untuk sebuah tali bagi sandalnya yang putus, karena sesungguhnya bila Allah tidak memudahkannya maka dia tidak akan mampu memperbaikinya (sandalnya) itu”.
Hadits yang sama juga telah diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu dan ini adalah hadits yang shahih.
Bukankah Allah telah berfirman di dalam surah An-Nisaa’ :32 “Mohonlah kepada Allah sebahagian daripada karunia-Nya, sesungguhnya Allah terhadap segala sesuatu adalah Al-‘Alim (Maha Mengetahui).”
“Lalu ketika shalat (jum’at) sudah ditunaikan, bertebaranlah di muka bumi dan carilah karunia Allah (dengan bekerja)……” (Al-Qur’an surah Al-Jumu’ah : 10)
Karena itulah Rasulullah SAW memerintahkan kepada kaum muslimin untuk membaca do’a ini saat memasuki masjid, “Allaahumma iftah li abwaabrahmatika ( ya Allah, bukakanlah untuk ku gerbang-gerbang rahmat Mu)”. Dan untuk membaca do’a ini saat meninggalkan masjid, “Allaahumma inni as’aluka min fadlika (ya Allah, aku memohon dari Mu semua kemurahan hati Mu)”.
Dan Ibrahim ‘alayhissalam berkata,”……..Dan mintalah rizqi mu dari Allah (saja) dan sembahlah Dia (saja) dan bersyukurlah kepada-Nya…..” (Al-Qur’an surah Al-Ankabut : 17). Ini adalah sebuah perintah yang harus dilaksanakan. Jadi, memohon pertolongan Allah, mengharap hanya kepada-Nya dalam urusan rizqi dan semua urusan lainnya adalah perintah dan prinsip penting dalam bekerja.
Orang haruslah mencari uang dengan memelihara martabat dan harga dirinya sehingga Allah akan memberkahi penghasilannya. Janganlah mencari uang dengan nekad dan ketamakan. Uang seharusnya tidak berfungsi lebih daripada kakus- orang membutuhkannya tapi tidak harus menganggapnya sebagai bagian penting dalam hati seseorang. Bekerja mencari uang selayaknya dengan sikap seseorang yang perlu memperbaiki toiletnya.
Sebab seperti kata Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi: “Barangsiapa bangun di pagi hari dengan dunia sebagai urusan utamanya maka Allah akan mencerai beraikan dan menghancurkan, dan dia akan merasakan kepanikan dan kehilangan dan tidaklah dia akan dapatkan apapun dari dunia ini kecuali apa yang sudah Allah tetapkan atas dirinya. Siapa yang bangun di pagi hari menjadikan akhirat sebagai urusan utamanya maka Allah akan memberinya perasaan merdeka (dari perbudakan oleh siapapun) dan semua kekayaan dunia akan mendatanginya dengan sukarela ataupun terpaksa”.
Mengenai cara tertentu untuk mendapatkan penghidupannya, apakah dalam dunia industri atau bisnis atau konstruksi atau pertanian maka ini berbeda dari satu orang ke lain orang. Beristikharahlah mencari tuntunan dan petunjuk Allah karena di dalam shalat istikharah ada keberkahan yang tidak dapat dipahami oleh manusia. Kemudian apapun yang Allah mudahkan untuk dirinya maka hendaklah dia bersyukur.
(sumber: majalah AULIA-Inspirasi Wanita Mulia).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar